Headline News :

    INDEKS BERITA PHOTO

    Risma Harap Seluruh Warga Surabaya Jadi Peserta BPJS

    Surabaya - Pelaksanaan program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) mulai berlaku sejak 1 Januari 2014 lalu.

    Walikota Surabaya Tri Rismaharini berharap semua warga bisa tercover menjadi peserta JKN tersebut.
    "Saat ini Pemkot masih mendata berapa total warga yang sebelumnya masuk dalam program Jamsostek, Askes dan TNI/Polri yang dicover JKN. Tetapi, Jika ada warga yang belum tercover dan berada di luar program tersebut akan tetap ditampung oleh Pemkot Surabaya," tegas Risma, disela-sela pendampingan Presiden SBY di Puskesmas Pucang Sewu, Sabtu (4/1/2014).

    Karenanya, warga di luar peserta  Jamkesmas, Askes, TNI/Polri, Jamsostek tidak perlu khawatir. Pemkot telah menyiapkan anggaran sebesar Rp 200 miliar untuk dana cadangan pelayanan. "Kita tidak bisa membatasi jumlah pasien di luar itu. Satu juta orang pun kami bisa," tandasnya.

    Anggaran tersebut sengaja dialokasikan cukup besar. Karena Rp 200 miliar yang terpakai untuk Jamkesmas non kuota hanya Rp 48 miliar.

    BPJS Surabaya punya 48 rumah sakit rujukan selain Puskesmas. Untuk prosedur pendaftarannya, calon peserta mendaftar ke kantor BPJS lalu diterbitkan virtual account. Kemudian, peserta melakukan pembayaran via bank dan mendapatkan bukti pembayaran yang bisa diserahkan ke kantor BPJS untuk pencetakan kartu.

    Syaratnya, peserta membawa e-KTP asli atau foto copy, Kartu Keluarga (KK) asli atau fotocopy, foto copy surat nikah, foto copy akte lahir/surat keterangan lahir anak, pas photo satu lembar 3x4 dan bagi WNA menunjukkan kartu ijin tinggal sementara/tetap.

    Namun, Risma menegaskan, jika ada warga sakit, warga tersebut kemudian diobati di Puskesmas. "Kan pasien gak boleh ditolak. Maka kami layani dulu, kami akan cover. Kalau pasien harus ngurus BPJS dulu kan lama. Setelah pasien dilayani, BPJS nagih ke kami. Berikutnya, warga akan memiliki kartu dan menjadi peserta JKN," kata Risma lagi.

    Tetapi yang pasti, lanjut Risma, pasien mau dilayani di kamar kelas III. "Asal dia mau yang kelas III, kami layani dulu," pungkasnya.(pur)

    Aparat Tak Berdaya Hadapi Kelompok Bersenjata di Papua

    JAKARTA – Penembakan oleh kelompok sipil bersenjata (KSB) masih terjadi di Papua. Sepanjang 2013, 19 orang tewas, sembilan di antaranya personel TNI dan satu polisi, sisanya warga sipil.
     
    Pada 4 Januari 2014 sore, KSB menyerang pos polisi di Kulirik, Kabupaten Puncak Jaya. Dua anggota Brimob yang berada di pos tersebut menyelamatkan diri saat diserang, sehingga delapan pucuk senjata api milik petugas dirampas KSB.
     
    Indonesia Police Watch (IPW) mencatat, sejak 2009 hingga awal 2014 terus terjadi aksi kekerasan bersenjata di Papua. Pada 2009 hingga 2010 ada 41 orang tewas, baik sipil maupun aparat keamanan. Pada 2011 hingga 2012, korban sipil 26 orang dan aparat 14 orang.
     
    "Jika dilihat datanya memang ada penurunan. Tapi yang memilukan adalah negara tidak dapat membasmi kelompok sipil bersenjata di Papua yang menyebabkan korban tewas terus berjatuhan," kata Ketua Presidium IPW, Neta S Pane, dalam pers rilisnya kepada Wartawan, Senin (6/1/2014).
     
    Menurut Neta, terus berulangnya peristiwa penembakan di Papua mengindikasikan adanya pembiaran terhadap aksi kekerasan di wilayah itu. Fakta ini, kata dia, tak sejalan dengan kebijakan membangun Papua yang damai.
     
    "IPW kecewa dengan sistem keamanan yang dibangun di Papua. Pemerintahan SBY tidak hanya gagal menjamin rasa aman warga Papua, tapi juga tidak pernah memberikan kepastian hukum, seperti menangkap pelaku penembakan misterius dalam empat tahun terakhir," terangnya.
     
    Bahkan, lanjut Neta, penembakan yang menewaskan delapan anggota TNI di pos TNI di Puncak Jaya pada 21 Februari 2013 tak kunjung terungkap dan tertangkap pelakunya.
     
    "Semua seakan terbiarkan. Padahal, peristiwa demi peristiwa penembakan itu sangat merendahkan martabat bangsa. Seakan aparat keamanan di Papua semakin tak berdaya," pungkasnya. (trk)
    Sumber : Okezone.com

    Ayu Ting Ting Dikabarkan Melahirkan, Cut Tari Diceraikan

    JAKARTA - Awal tahun 2014 dunia selebritas dihebohkan dengan pemberitaan seputar kehidupan pribadi para artis Ibu Kota.  Mulai dari berita kabar Ayu Ting Ting melahirkan, hingga Cut Tari yang digugat cerai oleh sang suami, Jusuf Subrata.

    Sehari setelah Tahun Baru, dunia hiburan digegerkan dengan pemberitaan Ayu Ting Ting  telah menjalani persalinan awal tahun baru 2014. Namun, pihak keluarga membantahnya.

    Okezone pun mencoba menyambangi RSU Hasanah Graha Afiah (HGA), rumah sakit terdekat dari kediaman Ayu. Namun, tidak ada pasien atas nama Ayu Rosmalina.

    Rumah kediaman Ayu kini terlihat sepi dari aktivitas. Hanya ada adik Ayu Ting Ting, Syifa, bersama temannya. Dia pun membantah isu kelahiran itu.

    Tak hanya Syifa, ayah Ayu Ting Ting, Abdul Rojak juga membantah putri sulungnya itu telah melahirkan. Dia memastikan, pelantun "Single Happy" itu akan melahirkan satu bulan ke depan.

    Pria yang berprofesi sebagai PNS inipun menepis isu Ayu telah pecah ketuban. Saat ini, Ayu tengah sehat walafiat. Hanya saja, saat ini keberadaan Ayu masih misteri. Menurut keluarga, Ayu tengah menjalani jadwal liburan untuk menenangkan diri.

    Sementara itu, secara mengejutkan, Cut Tari telah ditalak oleh suaminya, Johannes Jusuf Subrata, ke Pengadilan Agama Jakarta Timur, 18 Desember 2013 lalu.

    Meski selama setahun Jusuf sudah jarang pulang ke rumah yang biasa ditempati bersama Tari di kawasan Pondok Kelapa, Jakarta Timur, presenter cantik itu memastikan hubungan mereka tetap baik.

    Baik Tari maupun Jusuf membantah kabar yang menyebutkan kehadiran orang ketiga dalam rumah tangga mereka.

    Namun, santer terdengar, rumah tangga keduanya bermasalah sejak Tari tersandung kasus video mesum dengan Ariel. Selain itu, kehadiran pria idaman lain berinisial RK juga disinyalir menjadi penyebab kekisruhan rumah tangga mereka.

    Pasangan yang telah dikaruniai seorang putri bernama Sidney Azkassyah Yusuf itu akan menjalani sidang perdana pada 22 Januari 2014 mendatang.(nsa/pur)
    Sumber : Okezone.com

    Komunitas Semut Ajak Masyarakat Basmi Ranjau Paku

    JAKARTA - Tindak kejahatan di jalan raya memang bukan hanya sekedar pencurian, penodongan, dan  perampokan. Aksi tebar paku atau lebih dikenal ranjau paku juga harus menjadi perhatian.
    Aksi kejahatan yang bertujuan menguntungkan oknum tukang tambal ban ini kerap merugikan para pengendara. Aksi sosial yang dilakukan komunitas pembasmi ranjau paku juga tidak sepenuhnya mampu membasmi hal tersebut.

    Seperti diutarakan Ketua Semut Orange Community,  Johan P Tuilan alias Yossi, sejak 2012 ia membasmi ranjau paku di jalan raya kawasan Jakarta dan memiliki harapan bisa mensterilkan kawasan Jakarta dari ranjau paku.

    "Harapan ke depan, untuk masalah paku ini kita harus disterilkan," katanya di Jalan KH Hasyim Ashari, Gambir, Jakarta Pusat, Senin (6/1/2014).

    Namun, tak dipungkiri, Yossi bersama anggota komunitas Semut lainnya merasa kewalahan. Pasalnya, aksi ini tidak bisa hanya diatasi oleh segilintir orang melainkan harus ada peran serta berbagai pihak. "Kita enggak bisa tangani semua ranjau paku di Jakarta," tukasnya.

    Peran pemerintah, aparat penegak hukum, dan masyarakat harus menjadi bagian dalam membasmi penebar ranjau paku. Untuk itu, pihaknya mengajak semua lapisan masyarakat agar turut serta bersama-sama membasmi ranjau paku di jalan.(ful)

    Inilah Campuran 'Miras Maut' yang Merenggut 14 Korban Jiwa

    MOJOKERTO - 14 orang meninggal akibat menenggak minuman keras (miras) oplosan, sedangkan 10 orang lainnya menjalani perawatan di rumah sakit. Data sementara dari kepolisian terungkap para korban itu menenggak miras di lima lokasi yang berbeda.

    Wakapolres Mojokerto Kompol Nurhadi Santoso mengatakan, informasi yang diperoleh dari sejumlah korban selamat menyebutkan, mereka memang minum Miras jenis arak yang dicampur dengan berbagai minuman lainnya. Seperti Kopi, Minuman bersoda dan lain-lain. "Ada pula yang dicampur dengan minuman penambah stamina," kata Nurhadi kepada Wartawan, Minggu (5/1/2014).

    Ia juga memastikan, korban tewas terdapat 14 orang dan sisanya 10 orang masih dirawat di RSU Dr Wahidin Sudiro Husodo, RS Hasana dan RSI Sakinah, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto. Ia menduga, belasan korban tewas itu diduga menenggak miras dari jenis yang sama. "Kemungkinan para korban ini minum Miras Jenis yang sama," tukasnya.

    Sementara, pascakejadian maut itu, Polres Mojokerto langsung melakukan razia sejumlah tempat yang disinyalir menjual 'Miras Maut' itu. Salah satunya di warung kawasan Baraba, Kecamatan Magersari, Kota Mojokerto.

    Di warung tersebut, petugas menemukan puluhan jirigen berisi arak yang disimpan pemiliknya di sudut warung. Sementara, pemilik warung langsung diamankan di Mapolres Mojokerto untuk dimintai keterangan. Kata Nurhadi, arak dalam jirigen itu akan dilakukan uji laboratorium. "Ini dilakukan untuk memastikan apakah minuman itu sesuai dengan apa yang diminum korban ini," tandasnya.

    Sebelumnya, Miras Oplosan kembali menelan korban. 'Miras Maut' ini menelan korban 24 orang. 14 orang tewas dan 10 orang harus menjalani perawatan di Rumah Sakit. Para korban, rata-rata menenggak miras untuk merayakan pergantian tahun. (pur)